.
Kepala ini
serasa tumbuh uban-uban
meski petang belum memupuk senja
pada helai-helai rambut yang masih pagi
mentari menyuburkan terik di keningku
Lalu wajah memucati putihnya hari
mempias hujan yang ingin mengalirkan anak-anak sungai di mata
dan ubun-ubun membiaskan tangis ibu yang teduh
pada kemarau yang membakar sisa-sisa ingatan
Dada ini
kerap menabuh dentam-dentam geram yang riuh
menggaungkan waktu yang makin tambur
saat mata memicingkan amarah didetak-detak peristiwa
terkadang melupa pada senyum yang menyunggingkan fajar
sebab, perjalanan mengaburkan segala hasrat yang mengikat
Senja pun mengikal di anak-anak rambut
menggelung sepi pada puncak pendakian
terjerembablah malam di hening hati
menuakan keakuan yang paling getir
dari waktu yang memudakan kealpaan
hingga kepala kian mendekati pusara ayah
Duh, otak yang mengerami sunyi !
lepaskan saja terik yang membakar kening
lupakan senja yang mewartakan kematian
sebab, hidup masihlah terbit di mata hati
dan fajar, tetap setia menghitamkan rambut di kepala
#salam imaji#
Ka Tyo
Jakarta 121011
.
Kata Kata adlh sebuah hati, jiwa, nurani dan mata hati yg bisa terkecap segala rasa dari bumbu2 ekploitasi imjinasi yg bisa mengenyangkan juga memabukan. Kata Kata selalu "membebaskan" dirinya dari segala apapun dan tak ingin terkungkung, terpasung oleh pakem2 sastera dan kaidah2 Bahasa Indonesia. Kata Kata bisa "melebur" menjadi apa saja.
DAFTAR ISI
- HAIKU (1)
- KUMPULAN PUISI ALIT (40)
- Love Poems (12)
- PUISI (39)
- SAJAK (10)
- SAJAK-SAJAK PENGANTAR LELAP (10)
Minggu, 06 November 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan di comment